Journal of life


andandika:

WE ARE!!!



Amazing :)

(Source: andandika)


Gelas, sebuah analogi.

Cinta itu ibarat gelas kaca.

Jika kau genggam terlalu longgar, dia akan jatuh dan pecah.

Jika kau genggam terlalu kuat, dia akan retak dan melukaimu.

Dan ketika dia terlanjur retak, sebaik apa pun kau memperbaikinya, retakan itu tetap nampak.


Hujan

Rinai mulai jatuh, titik demi titik. Ini mungkin dapat membasuh tubuhku dari segala dosa dan perbuatan laknat. Ah, tapi aku menikmatinya. Bukan pada Bumi, tapi ayah. Bangsat! Bagaimana bisa aku menikmati hantaman kelamin busuknya berkali-kali. Aku memang Lintang, bukan manusia, tak juga binatang.

Aku tak ingin nikmat ini hanyut dalam aliran rinai di tubuhku. Aku ingin nikmat ini kekal, seperti saat kami berpagut, bukan lagi Bumi tapi ayah. Memang lintah keparat itu tau bagaimana menggapai nikmat. Laknat!


OCD

Lintang selalu melakukannya berulang-ulang. “Bumi mari kita lakukan,” bujuknya. Entah sudah berapa kali ia meminta. Bersenggama, bukannya Bumi enggan, tapi lelah. Sudah lebih dari tiga malam mereka berpagut, sampai kelaminnya menciut. Bumi kalah telak. Lintang memang jalang, namun tak disangka buasnya melebihi binatang. “Sejak kemarin, kelaminmu tak bersilaturahmi kemari, Bumi,” katanya mengeluh.
#fiksimini


Ilalang.

Ilalang? Nama malam wanita jalang. Bak binatang dari kumpulannya yang terbuang, kata cairil. Ia sendiri dan bertahta dalam kerajaan sunyi. Hatinya beku, tak ubahnya batu. Ia hanya menjaja cinta di jalan nista. Berpagut dalam kelut dan bercumbu dalam nafsu. Sampai menginjak akhirat, bahkan ia enggan taubat. Alasannya satu, karena nikmat.

#fiksi


12.12

Tepat pukul 12. 12 jam tepat seusai kami berpagut. Ya, mungkin 12 ini tak lagi sama. Bumi pergi seusai kami memadu kasih. Dalam diam aku merenung, sepanjang aku berlaku jalang, mungkinkah nikmat yg masih pekat sejak 12 itu kembali datang? Ah, sialnya aku memang binatang.

#fiksimini


Cinta sang Waria.

Namanya Cinta, dia berkelamin dua, satu dalam tubuh, lainnya dalam asa. Dia berdandan layaknya wanita, tapi sipil mencatatnya sebagai pria. Ia kerap menjual tubuh dengan alasan mengais cinta.

Hidupnya tak pernah sepi didera derita. Goresan luka tak hanya di ujung nadi, tapi juga di dalam hati. Ia merasa terpenjara dalam sangkar tubuh pria selama ini.


Balada cinta sesama

Bumi, lelaki yang kukenal sejak kecil dalam perjalanan mencari koin demi koin di luar stasiun Jatinegara. Lelaki ini tak kemayu, namun tak ubahnya diriku, pecinta sesama.

Semua begitu cepat terjadi. Ini mungkin cinta, mungkin nafsu belaka. Aku terpaut dalam nikmat saat kami berdua berpagut. Dalam kotak 4x6 meter dia mulai mencumbuku. Ia menikmati setiap jengkal lidahku, dalam. Tak kuasa ku mengerang saat kelaminnya meronta masuk dalam anusku. Tepat sejam setelah dia melindungiku dari nafsu bejat ayah.


Ayah.

Lintaang! Teriaknya memekik telingaku. Ah itu memang tabiatnya, gumamku. Setan! Sepertinya ia tak mampu bersikap layaknya ayah. Sepertinya nafsunya memburu kelaminku mulai menggebu.
#fiksimini


14
To Tumblr, Love PixelUnion

We're updating Fluid!

Soon, we'll be updating the look and feel of this theme. Read about the changes here. You can easily turn off this notification in the theme customization panel.

Close